Sunday, 6 June 2010

dharmabakti desa buddhis 2010

Dharmabakti Desa Buddhis (DDB) merupakan salah satu acara yang diadakan oleh KMB kita setiap dua tahun sekali. Acara ini diadakan pertama kali pada tahun 2002 sampai dengan sekarang. Jika dihitung, maka DDB kali ini adalah acara DDB yang kelima semenjak pertama kali diadakan. Pada pertama kali diadakan, DDB ingin memberi bantuan serta memberikan tindak lanjut dari bantuan selama DDB. Sebagai realisasinya maka dibentuklah program Kakak Asuh Kusaladhana. Setelah itu pada DDB 2004, konsep DDB semakin dikembangkan dengan memberi bantuan pengobatan dan penyuluhan kesehatan gratis. Kemudian dirasakan bahwa DDB tidak memiliki efek jangka panjang sehingga pada DDB 2006 muncullah konsep untuk memberikan sesuatu yang memberi efek jangka penjang. Pada DDB 2006 akhirnya didakan acara penyuluhan pertanian dengan harapan dengan adanya penyuluhan ini maka pertanian di desa tersebut menjadi semakin berkembang dan dapat memajukan desa tersebut. Dan pada DDB 2008, bantuan yang dirasa dapat memberi efek jangka panjang yaitu dengan memeberi bantuan pada segi pendidikan desa tersebut. DDB sebelumya, DDB 2008, diadakan di daerah Jepara. Pada DDB kali ini desa-desa Buddhis yang dikunjungi berjumlah 6 desa. Bantuan yang diutamakan pada DDB kali ini lebih ditujukan pada segi pendidikan, karena itu bantuan yang diberikan pada saat itu berupa komputer untuk vihara serta bantuan alat-alat praktikum untuk beberapa pihak sekolah. Selain itu diadakan juga acara ramah tamah dengan penduduk sekitar.

Secara garis besar, selama acara DDB, sesuai dengan namanya, kita melakukan kunjungan ke desa-desa Buddhis serta memberikan bantuan-bantuan ke masyarakat yang ada di desa tersebut terutama masyarakat Buddhis. Selama DDB kita akan tinggal di desa-desa yang kita kunjungi. Selain itu, kita juga akan mengadakan acara dan berinteraksi dengan penduduk sekitar.

Untuk DDB 2010 kali ini, bantuan yang ingin diberikan lebih ditujukan pada bantuan kondisi fisik vihara. Hal ini dirasakan akan memberikan efek bantuan jangka panjang kepada umat Buddhis yang ada di desa tersebut. Selain itu jika dilihat, ternyata masih ada vihara yang hanya didirikan seadanya dan kondisinya sangat memprihatinkan jika terus digunakan. Karena beberapa pertimbangan tersebut maka DDB kali ini diputuskan akan membantu memperbaiki kondisi fisik vihara. Selain itu, agar bantuan yang diberikan dapat lebih maksimal, maka jumlah desa yang akan dikunjungi selama DDB juga dipersempit menjadi 2-3 desa.
Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta.
(Gw males nulis,,paragraf2 di atas gw copy dari group DDB 2010 di FB.hihii)

nah,,,sekarang ngerti kan apa itu DDB. Saya akan mulai cerita deh pengalaman saya slama DDB ini. DDB 2010 ini dilaksanakan dari tanggal 31 mei sampai 5 juni 2010 di dua desa, yaitu purwokencono dan watuagung di lampung,.
Saya critain dari hari pertama hingga hari trakhir ya,
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

31 mei 2010
pukul 4 sore kami sudah disuruh ngumpul di sunken E09. Pukul 6 sore berangkat ke Vihara Vimala Dhamma untuk melakukan kebaktian. Setelah selesai kebaktian, kami masuk ke bus. Bus pun berjalan meninggalkan ITB, meninggalkan bandung, ke merak, nyebrang pake ferry ke bakahuni, dan ke Lampung
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
1 juni 2010
tiba di lampung skitar pukul 7 pagi,
Kemudian menuju desa pertama, nama desanya purwokencono.
Deskripsi desanya:
jalannya itu tanah ,gada yang aspal.banyak sapi, banyak batu2 nya juga. Tidak ada honda jazz, tidak ada inova, apalagi mercy.wkwkw..Yang ada sepeda, sepeda motor, mobil yang buat ngangkut barang sjenis pick up gitu.trus, tidak ada yang namanya macet, soalnya mobil nya aja dikit banget. susah banget nyari sinyal disini, apalagi internetan.
Disini kami turun di depan cetiya yang baru saja dibangun dengan uang hasil DDB. keren lho..sederhana tapi bermakna. Kalau tidak salah ingat, cetiya ini namanya Dhammametta. Karena sampenya sudah sore, jadi kami cuman ngomongin masalah acara peresmian vihara ini yang bakal diadain besok hari. Ohya,,kita makan-makannya disini lho. ternyata makanan desa itu enaak.maknyoss deh,. sambel nya itu lho.kagak nahan,pedes dan nikmat.. te o pe deh...

Nah, beres makan,kita langsung dibagi tempat tinggal. Nginepnya di rumah warga gitu. Disini nih serunya, gw kebagian di rumahnya ibu Sayumi. Dari vihara kita jalan kaki k rumah tersebut, jauhnyaaaaa....uda bawa tas berat, jauh dan jalannya berbatu. Akhirnyaa..nyampe juga di rumah ibuk sayumi. Saya satu tempat tinggal sama radite, ce nelly, ce vivi, ce shirly, kevin,ce ellys, ko adi, dan woen. 
   


Sekarang sesak pipis, mau cuci muka, ke WC deh. Yang ini lebih shock lagi. WC nya tidak memiliki atap. huwaaa..seremm..tidak ada pintu jugaaaaa... terus airnya dari sumur, jadi harus nimba dulu. Kamar mandi buat mandi berbeda dengan buat boker. Wc yang buat boker itu tingginya cuma sepinggang gitu.
Ibu sayumi nya baeeek buanget. Sewaktu kita datang langsung disuguhi dengan berbagai makanan dan minuman. karena kita malu malu makannya, si ibu langsung bilang gini ' kalo ga dimakan, ibu kecewa lho'. busyett.,,kita-kita jadi ga tega dong.udah numpang rumah orang, trus bikin kecewa. Akhirnya dimakan deh..hehhee..
kami tidur beralaskan tikar. Si ibu baek banget. Dia nyediain bantal buat kita dan saya juga dapat kasur tipis yang cukup nyaman buat tidur. Dan kita pun tidur dengan diserang nyamuk dan dalam bentuk susun ikan sarden.hahaa..

(lanjutnya besok yaa..ngantuk)

Sunday, 31 January 2010

DAD...I LOVE U

Yang ayah wariskan kepada anak-anaknya bukan kata-kata atau kekayaan, tetapi sesuatu yang tak terucapkan yaitu teladan sebagai seorang pria dan seorang ayah - Will Roger S

Setahuku, botol acar besar itu selalu ada di lantai di samping lemari di kamar orangtuaku. Sebelum tidur, Ayah selalu mengosongkan kantong celananya lalu memasukkan semua uang recehnya ke dalam botol itu. Sebagai anak kecil, aku senang mendengar gemerincing koin yang dijatuhkan ke dalam botol itu. Bunyi gemericingnya nyaring jika botol itu baru terisi sedikit. Nada gemerincingnya menjadi rendah ketika isinya semakin penuh. Aku suka jongkok di lantai di depan botol itu, mengagumi keping-keping perak dan tembaga yang berkilauan seperti harta karun bajak laut ketika sinar matahari menembus jendela kamar tidur.

Jika isinya sudah penuh, Ayah menuangkan koin-koin itu ke meja dapur, menghitung jumlahnya sebelumnya membawanya ke bank. Membawa keping-keping koin itu ke bank selalu merupakan peristiwa besar. Koin-koin itu ditata rapi di dalam kotak kardus dan diletakkan di antara aku dan Ayah di truk tuanya. Setiap kali kami pergi ke bank, Ayah memandangku dengan penuh harap. "Karena koin-koin ini kau tidak perlu kerja di pabrik tekstil. Nasibmu akan lebih baik daripada nasibku. Kota tua dan pabrik tekstil disini takkan bisa menahanmu." Setiap kali menyorongkan kotak kardus berisi koin itu ke kasir bank, Ayah selalu tersenyum bangga. "Ini uang kuliah putraku. Dia takkan bekerja di pabrik tekstil seumur hidup seperti aku.".

Pulang dari bank, kami selalu merayakan peristiwa itu dengan membeli es krim. Aku selalu memilih es krim cokelat. Ayah selalu memilih yang vanila. Setelah menerima kembalian dari penjual es krim, Ayah selalu menunjukkan beberapa keping koin kembalian itu kepadaku. "Sampai di rumah, kita isi botol itu lagi."
Ayah selalu menyuruhku memasukkan koin-koin pertama ke dalam botol yang masih kosong. Ketika koin-koin itu jatuh bergemerincing nyaring, kami saling berpandangan sambil tersenyum. "Kau akan bisa kuliah berkat koin satu penny, nickle, dime, dan quarter," katanya. "Kau pasti bisa kuliah.. ayah jamin."
Tahun demi tahun berlalu. Aku akhirnya memang berhasil kuliah dan lulus dari universitas dan mendapat pekerjaan di kota lain. Pernah, waktu mengunjungi orangtuaku, aku menelepon dari telepon di kamar tidur mereka. Kulihat botol acar itu tak ada lagi. Botol acar itu sudah menyelesaikan tugasnya dan sudah di pindahkan entah ke mana. Leherku serasa tercekat ketika mataku memandang lantai di samping lemari tempat botol acar itu biasa di letakkan.

Ayahku bukan orang yang banyak bicara, dia tidak pernah menceramahi aku tentang pentingnya tekad yang kuat, ketekunan, dan keyakinan. Bagiku, botol acar itu telah mengajarkan nilai-nilai itu dengan lebih nyata daripada kata-kata indah.


Setelah menikah, kuceritakan kepada Susan, istriku, betapa pentingnya peran botol acar yang tampaknya sepele itu dalam hidupku. Bagiku, botol acar itu melambangkan betapa besarnya cinta Ayah padaku. Dalam keadaan keuangan sesulit apa pun, setiap malam Ayah selalu mengisi botol acar itu dengan koin. Bahkan di musim panas ketika ayah diberhentikan dari pabrik tekstil dan Ibu terpaksa hanya menyajikan buncis kalengan selama berminggu-minggu, satu keping pun tak pernah di ambil dari botol acar itu. Sebaliknya, sambil memandangku dari seberang meja dan menyiram buncis itu dengan saus agar ada rasanya sedikit, Ayah semakin meneguhkan tekadnya untuk mencarikan jalan keluar bagiku. "Kalau kau sudah tamat kuliah," katanya dengan mata berkilat-kilat, "kau tak perlu makan buncis kecuali jika kau memang mau."

Liburan Natal pertama setelah lahirnya putri kami Jessica, kami habiskan di rumah orangtuaku. Setelah makan malam, Ayah dan Ibu duduk berdampingan di sofa, bergantian memandangku cucu pertama mereka. Jessica menagis lirih. Kemudian susan mengambilnya dari pelukan Ayah. "Mungkin popoknya basah," kata Susan, lalu dibawanya Jessica ke kamar tidur orangtuaku untuk di ganti popoknya.
Susan kembali ke ruang keluarga denga mata berkaca-kaca. Dia meletakkan Jessica ke pangkuan Ayah, lalu menggandeng tanganku dan tanpa berkata apa-apa mengajakku ke kamar..



"Lihat," katanya lembut, matanya memandang lantai di samping lemari. Aku terkejut. Di lantai, seakan tidak pernah di singkirkan, berdiri botol acar yang sudah tua itu. Di dalamnya ada beberapa keping koin. Aku mendekati botol itu, merogoh saku celanaku, dan mengeluarkan segenggam koin. Dengan perasaan haru, kumasukkan koin-koin itu kedalam botol. Aku mengangkat kepala dan melihat Ayah. Dia menggendong Jessica dan tanpa suara telah masuk ke kamar. Kami berpandangan. Aku tahu, Ayah juga merasakan keharuan yang sama. Kami tak kuasa berkata-kata.

* Sebuah cerita yang SANGAT luar biasa dan cukup menginspirasiku dimana seorang ayah sangat mencintai anaknya dan selalu menginginkan yang terbaik buat anaknya. ia ingin anaknya jauh lebih baik dari dirinya sendiri. Tetapi dalam prosesnya, Ayah ini tidak saja menunjukkan cintanya pada anaknya tetapi juga menunjukkan sesuatu yang sangat berharga yaitu pelajaran tentang impian, tekad, teladan seorang ayah, disiplin dan pantang menyerah. Saya percaya anaknya belajar semua itu walaupun ayahnya mungkin tidak pernah menjelaskan semua itu karena anak belajar jauh lebih banyak dari melihat tingkah laku orangtuanya dibanding apa yang dikatakan orangtuanya.

Monday, 2 November 2009

hal-hal yang harus diperhatikan saat menghadapi UTS

pelajaran yang dapet diambil dari UTS kalkulus, yaitu :
  1. jangan menganggap remeh pelajaran yang dianggap mudah, sehingga mengurangi waktu Belajar.
  2. banyak-banyak mengerjakan soal latihan.
  3. dalam pengerjaan UTS, jawaban harus dibuat sejelas mungkin dengan memperhatikan setiap langkah kerja yang ditulis.perhatikan setiap notasi matematika yang anda tulis.
  4. jika anda sudah buntu dalam UTS, coba tuliskan beberapa langkah-langkah, mungkin masih bisa mendapatkan nilai beberapa poin.
  5. jangan mencoret-coret kertas jawaban ujian dengan menggambar hal-hal ga penting, seperti menggambar wajah pengawas ataupun wajah dosennya
  6. jangan lupa berdoa sebelum mengerjakan UTS
  7. jangan terlalu banyak membuang waktu dalam mengerjakan soal yang susah.kerjakan dahulu yang menurut anda mudah
  8. jangan sekali-kali anda berani mencontek di ITB.karena mata pengawas dewa-dewa n siap siaga.
  9. jangan sampai anda saat mengerjakan UTS dalam keadaan lapar atau mengantuk, karena akan mengganggu konsentrasi ada.
  10. siapkan mental dalam menerima hasil UTS.Saingan begitu banyak,,bisa membuat anda jatuh mental.
saya telah melakukan hal-hal bego dalam UTS, alhasil nilai saya ga sempurna.padahal hasilnya benar...dan saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi. UTS 2 haruusss lebih baikk..
:)

Thursday, 30 July 2009

Satu Jam di Museum Geologi Bandung


30 Juli 2009

Hari ini masih liburan sebelum pengumuman penempatan fakultas ITB. Aku bersama kedua sahabatku, arum dan silvana bakal mengkorek-korek apa yang ada di dalam museum geologi Bandung ini. Dengan menggunakan angkot riung-dago ,kami pun berhasil tiba di museum ini.


Berbagai koleksi geologi dan pertambangan terlengkap di Indonesia dapat dijumpai di Museum Geologi ini. Museum ini diresmikan sejak 16 Mei 1929 (uda lamaa yaa??). Museum ini semula merupakan laboratorium yang memilliki ragam koleksi batuan, mineral, meteorit, fosil dan artefak yang dikumpulkan sejak tahun 1850-an.
Saat berjalan ke arah kanan dari pintu masuk, kami dikejutkan oleh koleksi unggulan dari museum ini, yaitu replika fosil dinosaurus karnivora terbesar dan terganas, Tyrannosaurus rex. ukurannya sangat besar..


Selain replikasi dinosaurus ini, juga ditemukan fosil manusia purba Homo erectus (itu lho..yang sering kita pelajari di buku sejarah SMP. terjawab sudah rasa penasaran melihat yang asli..), fosil gajah purba Stegodon trigonocephalus. Selain itu, kita juga dapat mempelajari kapan dan bagaimana bumi kita terbentuk, sejarah kehidupan dari masa ke masa, fenomena geologi Indonesia dan juga hubungan geologi dengan kehidupan manusia.

Museum ini terdiri atas 2 lantai. Jam buka museum ini dari senin- kamis dari jam 9 pagi sampai jam 3.30. Sedangkan hari sabtu-minggu dari jam 9 pagi sampai jam 1 siang. Hari Jumat dan hari libur tutup. Biaya masuknya gratis lhoo.....

alamat lengkap museum ini:
Museum Geologi
jl Diponegoro 57, Bandung 40122, Indonesia